Pemilu Raya Universitas: Ajang Demokrasi atau Sekadar Seremonial?

April 06, 2026 Oleh  Bakureh Media
Pemilu Raya Universitas: Ajang Demokrasi atau Sekadar Seremonial?
Aktivis Mahasiswa
"Saya putuskan bahwa saya akan demonstrasi. Karena mendiamkan kesalahan adalah kejahatan." - Pendahuluan Kritis

Aktivis, menurut pandangan umum, merupakan sosok intelektual yang senantiasa mengkritisi kebijakan-kebijakan yang dirasa menyengsarakan masyarakat umum. Ia hidup di alam pemikiran yang sarat dengan dialektika, memperjuangkan apa yang dianggap sebagai kebenaran hakiki. Namun ironisnya, akhir-akhir ini wajah aktivis mahasiswa tak ubahnya menyerupai preman jalanan—penuh amarah, bermuka masam, mudah tersulut emosi, dan kerap menempuh jalur anarkis saat menyalurkan aspirasinya.

Mungkin masih lekat dalam ingatan kita demonstrasi penolakan kenaikan BBM atau demonstrasi-demonstrasi lain. Sebuah aksi masif yang, sayangnya, sering diwarnai kericuhan. Hal seperti ini bukanlah hal baru. Seringkali demonstrasi ditutup dengan insiden pelemparan batu, pembakaran ban, perusakan fasilitas publik, hingga bentrok fisik yang merugikan semua pihak.

Hilangnya Esensi Dialog Rasional

Mengapa anarkisme seolah menjadi bumbu wajib dalam setiap demonstrasi? Di manakah letak ruang dialog yang berbudaya? Seringkali para aktivis ini berdalih bahwa cara-cara sporadis ini adalah respons logis atas kebuntuan komunikasi; bahwa pemerintah tidak lagi mendengar narasi yang tenang sehingga harus "dipaksa" mendengar melalui amarah kelas satu.

Tetapi, layakkah kita, kumpulan manusia terdidik yang bertengger di menara gading intelektualitas universitas, membenarkan perusakan? Ketika gelar 'mahasiswa' menempel erat di pundak kita, ada tanggung jawab moral yang sangat berat harus kita emban. Ketidakmampuan menjaga emosi dan rasionalitas pada akhirnya justru akan mendelegitimasi tuntutan substantif yang kita suarakan di lapangan.

Mencari Solusi Resolusi Konflik Konkrit

Dalam menyikapi karut-marut persoalan bangsa kita, elemen mahasiswa dituntut untuk lebih taktis dan strategis. Kemampuan analisis sosial yang mendalam dan pergerakan literasi harus berjalan beriringan dengan aksi jalanan kita. Tidak cukup hanya bermodalkan urat leher untuk berteriak, mahasiswa harus turun tangan dengan membawa kajian-kajian empiris komprehensif yang tak terbantahkan oleh nalar pemangku kebijakan.

Lebih jauh lagi, UNP Leadership Centre hadir sebagai antitesis budaya lama itu. Visi kita adalah membina student leadership yang tak sekadar membebek tradisi lalu, tetapi sangat berani merekonstruksi sebuah pola gerakan yang baru. Kita bermimpi adanya gerakan mahasiswa yang sangat independen, analitik, tertata, solutif, namun sama sekali tidak kehilangan daya sentaknya!

Share:
Bakureh Media
Penulis

Bakureh Media

Inisiator sekaligus Ketua Divisi Kajian dan Strategi (Kastrat) UNP Leadership Centre tahun 2012. Tulisan ini diadaptasi dari arsip blog UNP LC lampau yang bertujuan utama membangkitkan kembali nalar kritis mahasiswa UNP yang sehat, tajam, dan rasional.

Artikel Terkait

Eksplorasi gagasan lainnya yang serupa